Lastest Articles

Showing posts with label BudayaJawa. Show all posts
Showing posts with label BudayaJawa. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Basu Dewo

0 komentar

Prabu Basudewa seorang raja di Madura, putra Prabu Kuntiboja. Sebelum Prabu bertahta jadi raja di Madura ia berpermaisuri seorang puteri pendeta Begawan Kawita, bernama Dewi Maerah. Perkawinan ini mendatangkan bahagia, hingga jadi raja. Akan tetapi permaisuri itu juga menjadi sebab kerusakan kerajaan Madura, yaitu ketika negeri Madura kedatangan musuh seorang raja raksasa Prabu Gorawangsa. Gorawangsa dapat menyamarkan diri menjadi Prabu Basudewa dan dapat bergaul dengan Dewi Maerah hingga Dewi Maerah mengandung dan melahirkan Raden Kangsa.

Raden Kangsa inilah yang merusak negeri Madura, hingga putera putera Prabu Basudewa. sendiri terlantar: Tetapi sesudah Kangsa mati, kembali keamanan negeri Madura.

Prabu Basudewa bersaudara seorang putri bernama Dewi Kuntinalibrata, yaitu ibu Pandawa: Yudistira, Wrekudara dan Arjuna.

BENTUK WAYANG


Prabu Basudewa bermata kedondongan, hidung dan muka serba lengkap, berkumis dan berjanggut. Bermahkota, berjamang tiga susun dengan garuda membelakang, berpraba. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan raton.


source : http://wayangku.wordpress.com/2008/11/08/prabu-basudewa/
more.

BALA DEWA

0 komentar

Raden Kakrasana waktu jadi raja di Madura bergelar Prabu Baladewa. Ia naik tahta setelah menjadi menantu Prabu Salya, raja di Madraka. Ketika itulah ia mendapat gelar Prabu Baladewa, karena pada waktu kawin dihadiri oleh para dewa. Ia mendapat hadiah dari Betara Guru berupa senjata Algora dan diberi nama oleh dewa Kusumawalikita, Balarama, Basukiyana. Hyang Narada memberi nama Alayuda. Setelah menjadi raja ia memihak pada Kurawa dan memusuhi Pandawa, saudara misannya sendiri. Karena kesaktian Prabu Baladewa itu dipandang oleh Sri Kresna tidak akan tertandingi, maka menjelang perang Baratayudha, ia ditipu oleh Sri Kresna supaya bertapa di Grojogan Sewu.

Setelah Prabu Baladewa mendapat nasehat Sri Kresna, ia menuju tempat yang ditunjuk dan bertapa di Grojogan Sewu. Pada saat bertapa di air terjun, terlihat darah mengalir dan mengertilah ia bahwa perang Baratayudha telah terjadi. Setelah perang, Prabu Baladewa kembali Ke Hastinapura, dan mengetahui kekalahan Kurawa dan binasa di medan perang. Kemudian Prabu Baladewa mengikuti Pandawa mengasuh Prabu Parikesit hingga ajalnya.

Prabu Baladewa mempunyai senjata bernama Nanggala, kesaktiannya tak seorang pun yang mampu menahannnya sekalipun ia dewa.

BENTUK WAYANG


Prabu Baladewa bermata kedondongan, hidung dan muka serba lengkap, bermahkota jamang tiga susun dan garuda membelakang. Berpraba, bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkain katongan.

Prabu Baladewa berwanda; 1) Geger karangan Susuhunan Anyakrawati wafat Krapyak, 2) Kaget, 3) Sembada, 4) Paripeksa, 5) Rayung.


SOURCE : http://wayangku.wordpress.com/2008/11/08/prabu-baladewa/
more.

Prabu Kresno / Harimurti

0 komentar
Raden Narayana setelah menjadi raja bernama Prabu Harimurti Padmanaba, karena ia titisan Begawan Padmanaba. Disebut juga Prabu Dwarawati, karena menjadi raja di negeri Dwarawati, dan disebut juga Prabu Kresna, karena berkulit hitam dan lain-lain. la dapat bertahta di Dwarawati karena mengalahkan seorang raja raksasa bernama Prabu Kunjana Kresna di negeri tersebut, dan nama Kresna itu dipakainya juga sebagai namanya sendiri, yakni Prabu Kresna.

Prabu Kresna sebagai pengasuh Pandawa atau disebut dalang, ialah seorang yang pandai menjalankan siasat politik negara, peperangan dan lain-lain. Prabu Kresna mempunyai senjata cakra, senjata yang hanya dikuasai oleh titisan Wisnu, dan mempunyai azimat kembang Wijayakusuma, untuk menghidupkan orang mati, yang belum sampai pada takdirnya. Dalam perang Baratayudha Sri Kresna yang memegang daya upaya kemenangan Pandawa. Usia Prabu Kresna lanjut, hingga sehabis perang Baratayudha.

Sri Kresna berpermaisuri 4 puteri: 1) Dewi Jembawati, anak seorang pendeta kera Kapi Jembawan dipertapaan Gadamedana, berputera Raden Samba; 2) Dewi Rukmini, puteri Prabu Rukma, seorang raja di Lesanpura, berputra Dewi Siti Sundari; 3) Dewi Setyaboma, putri Prabu Setyajid, seorang raja di Lesanpura, dan berputra Raden Setyaka, dan 4) Dewi Pretiwi, putri Hyang Antaboga, berputra Prabu Bomanarakasura.

Prabu Kresna mampu bertiwikrama yaitu berganti rupa menjadi raksasa. Pada lakon Kresna gugah, yaitu Kresna sedang tidur dalam rupa raksasa (tiwikrama). Dalam cerita ini diriwayatkan bahwa siapa yang mampu membangunkan Sri Kresna akan memenangkan perang Baratayudha. Maka kedua belah pihak (Pandawa dan Kurawa) berusaha membangunkannya. Namun tindakan Kurawa sia-sia belaka. Hanya Arjuna yang dapat membangunkan Sri Kresna.

BENTUK WAYANG


Wayang Prabu Kresna bermuka hitam, sedangkan seluruh badan berpraba. Wayang ini untuk dimainkan pada waktu sore. Tetapi pada waktu hampir pagi berganti wayang yang bercat hitam seluruh badan.

Prabu Kresna berwanda: 1) Gendreh, karangan Sri Sultan Agung di Mataram, 2) Rondon, 3) Mawur.


source : http://wayangku.wordpress.com/2008/11/18/prabu-kresna/
more.

DEWI RARA IRENG

0 komentar
Rara Ireng adalah puteri Prabu Basudewa, seorang puteri titisan Dewi Sri, dewa perempuan imbangan Hyang Wisnu. Sesudah dewasa Rara Ireng bernama Dewi Wara Sumbadra, yang terhitung bangsa bidadari, hingga ada kata perhitungan bahasa Jawa: Seketi (sepuluh laksa) kurang sawiji (kurang satu), yang merupakan perhitungan jumlah bidadari di Kahyangan, satu kekurangan itu menjadi lengkap dengan adanya Sumbadra, jadi benarlah Sumbadrasebangsa bidadari. Ia bersuamikan Raden Arjuna, dan berputera seorang laki-laki bernama Raden Angkawijaya. Inilah keturunan Pandawa yang tak berkeputusan memancarkan laki-laki.


Menurut riwayat, Rara Ireng seorang yang aneh. Waktu ia masih kanak-kanak rupanya jelek, berkulit hitam dan berambut jarang kemerah-merahan, karena itulah ia bernama Rara Ireng yang berarti hitam. Tetapi segala kejelekannya itu berangsur-angsur berubah, sehingga Rara Ireng akhirnya menjelma menjadi seorang putri yang secantik-cantiknya. Dalam cerita, Rara Ireng dikatakan tidak begitu cantik, tetapi ketika ia berkumpul dengan putri-putri yang tersohor cantiknya, Rara Ireng lah yang terlihat paling cantik.


Rara Ireng seorang putri yang sangat sabar, kalau datang marahnya ia hanya menampakan senyuman yang manis. Setelah bersuami ia selalu rukun dan damai sehingga dimisalkan sebagai ikan mimi dan mintuna, yaitu dua ekor ikan laut (jantan dan betina) yang tak pernah berpisah. Tetapi pada suatu masa timbul juga marah yang sebenarnya karena kesalahan Arjuna. Perkataan Dewi Wara Sumbadra ketika itu meskipun halus terasa juga oleh Arjuna sebagai halilintar menyambar.





Semasa Prabu Basudewa masih hidup, Rara Ireng pernah dipangku oleh baginda di pangkuan sebelah kiri, dan Raden Pamade di pangkuan sebelah kanan. Prabu Basudewa bersabda: Rara Ireng yangan bersuami selain dengan Pamade, pun Pamade yangan beristri selain Rara Ireng. Sabda ini disaksikan oleh para dewa dengan teriring tanda-tanda yang gaib. Tersebut dalam cerita, mula-mula Raden Burisrawa melihat Rara Ireng pada waktu Raden Kakrasana (Prabu Baladewa) beristrikan dengan Dewi Erawati, Rara, Ireng dibawa kakandanya sebagai pengiring mempelai (Jawa: patah). Setelah Burisrawa melihat Rara Ireng, ia tergila-gila (Jawa: kedanan), dan Burisrawa bersumpah tidak akan kawin selain dengan Rara Ireng.

Pada lakon Sumbadra larung, di tengah malam Dewi Wara Sumbadra akan mandi, di tengah jalan dihadang oleh Burisrawa, ia sangat gembira dan mendekati Wara Sumbadra, tetapi Wara Sumbadra tetap tak berubah sikapnya, tak mau didekati. Tingkah Wara Sumbadra ini amat menjengkelkan hati Burisrawa, lalu ia menarik keris hanya untuk menakut-nakuti saja, tetapi setelah Wara Sumbadra melihat tangan. Burisrawa memegang keris terhunus lalu diterkam keris itu, matilah Wara Sumbadra seketika itu juga. Dari pertimbangan Sri Kresna, mayat Wara Sumbadra supaya dilarung dalam perahu di bengawan Silugangga.

Tersebutlah Raden Antareja, putera Wrekudara, keluar dari bawah bumi akan menghadap ramandanya, menemui mayat Wara Sumbadra dan dapat menghidupkan kembali. Setelah Dewi Wara Sumbadra mengetahui sejarah Antareja, sangat bersukacita, lantaran anak kemenakan sendiri, dan Antareja lalu menjaga puteri itu. Tetapi setelah Gatotkaca yang menjaga dari jauh mengetahui seorang laki-laki berdekatan dengan Dewi Wara Sumbadra ia sangat murka, dikirakan bahwa Antareja bukan kerabatnya, jadi peranglah kedua kesatria itu. Kemudian diterangkanlah oleh Wara Sumbadra, bahwa kedua kesatria itu bersaudara. Rukunlah kedua kesatria itu dan mengiring Dewi Sumbadra kembali pulang ke negeri Madukara, negeri Arjuna.
more.

Tuesday, November 6, 2012

JALAN ASWATAMA

0 komentar

Perang Baratayudha telah usai, Resiwara Bisma telah moksha ke alam kadewatan sesuai dengan waktu yang diinginkannya, setelah kematian Prabu Suyudana sebagai penutup Perang Baratayudha.

Resiwara Bisma dalam perjalanannya menuju surga bertemu dengan Dewi Amba, kekasih pujaan didunia. Ia kelihatan bahagia. Hal itu tidak akan terjadi kalau ia masih hidup. Karena didunia ia seorang Brahmacari.

Kurawa pun sudah habis, semua sudah gugur di medan perang Kurusetra. Demikian pula Pandawa juga telah kehilangan banyak sanak saudaranya.
Dewi Drupadi, juga mengalami hal yang serupa, ia telah kehilangan ayahnya, Prabu Drupada. Keluarga Wirata, telah kehilangan Prabu Matswapati, Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka dalam Perang  Baratayudha.Terlebih lagi Pandawa disamping telah kehilangan sanak saudaranya, juga kehilangan saudara saudaranya Para Kurawa, Eyangya, Gurunya, sahabat serta kerabatnya. Namun yang menjadikan Keluarga Pandawa mempunyai semangat hidup  mereka masih memiliki Ibu Kunti dan Eyang Abiyasa,

Dengan kemenangan Pandawa, maka Pandawa beserta seluruh keluarga tang tersisa memasuki Istana Astina. Kedatangan Para Pandawa disambut oleh  Dewi Kunti. Dewi Kunti terharu, karena betapa mahalnya untuk sebuah kemerdekaan Indraprasta, terlalu banyak yang menjadi korbannya. Dewi Kunti juga mengucapkan terima kasihnya pada Kresna yang telah mendampingi Para Pandawa selama Perang Baratayudha.Kedatangan Pandawa telah diketahui oleh Uwa Prabu Drestarastra dan Uwa Dewi Gendari. Para Pandawa dijemput oleh Paman Yama Widura yang merangkulnya penuh keharuan. Dalam perang Baratayudha, Paman Yama Widura kehilangan satu orang puteranya, Sang Yuyutsu, yang telah gugur di medan pertempuran Barata Yudha dipihak Pandawa.

Ketika meeka sedang berbincang bincang, datanglah  Sanjaya, anak Paman Yama Widura pertama, yang disuruh Uwa nya Prabu Drestarastra, agar  Pandawa keistana Kasepuhan, karena Prabu Drestarastra telah menunggu kedatangan para Pandawa.

Sementara itu Prabu Sri Batara Kresna merasakan fiirasat yang buruk.Prabu Kresna membisikkan agar para Pandawa berhati hati dan waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada, karena ini mungkin perang belum selesai. Pandawa memakluminya. mereka segera menemui Uwa Prabu Drestarastra.

Prabu Drestarastra sedang duduk serimbit dengan Dewi Gendari. Prabu Drestarastra memeluk satu persatu para Pandawa.Walaupun ia memeluk para Pandawa, namun sebenarnyan hatinya  merindukan anak anak kandungnya sendiri , yaitu  Para Kurawa yang telah tiada. Sekarang giliran Werkudara yang hendak dipeluk Prabu Drestarastra. Werkudara segera  mendekati Uwa nya. Namun Prabu Kresna menarik tangan Werkudara, sambil berbisik, tidak perlu mendekati. Biar saja uwa nya yang datang menjemput. Prabu Drestarastra menangisi kematian putera puteranya para Kurawa, karena tidak satupun yang disisakan hidup, oleh Para Pandawa. Sebenarnya Pandawa bisa saja menyisakan Suyudana untuk hidup. Tetapi semuanya sudah terjadi.  Prabu Drestarastra akhirnya berdiri mendekati Wekudara. Sementara itu Werkudara berdiri dekat sebuah patung raksasa  sebesar Werkudara.Werkudara menghindar ketika uwa nya mengulurkan kedua tangannya untuk memeluknya. Tetapi yang tersentuh adalah Patung raksasa yang menghalangi Werkudara dan patung pun menjadi hancur lebur.dari kedua tangan uwa nya masih mengeluarkan api yang  menyala nyala.

Semua terjadi karena uwa nya telah menyalurkan aji Kumbalageni yang sebenarnya ditujukan untuk membunuh Werkudara. Keadaan menjadi hening tidak satupun orang berkata. Prabu Drestarastra menyesal telah membunuh Werkudara. Ia mohon maaf kepada Dewata karena ia tak mampu menahan nafsu balas dendam pada Pandawa khususnya Werkudara yang telah membunuh Suyudana anaknya yang paling dicintainya. Andaikata ia mampu, Werkudara akan dihidupkannya. Ia menyesal tak bisa menjaga amanat Pandu adiknya, untuk menjaga keselamatan Pandawa.Namun Dewi Gendari berkata lain, ia menyesal melihat kegagalan Prabu Drestarastra untuk membunuh Werkudara.

Dewi Gandari bersupata, bahwa Kresna juga akan mengalami penderitaan Bangsa Kuru, karena Kresna adalah yang membunuh seluruh para Kurawa, walaupun tidak dengan tangannya sendiri Maka bangsa Yadawa, juga akan mengalami hal yang sama, Bangsa Yadawa akan mengalami perpecahan, hingga terjadi pertumpahan darah antar bangsa Yadawa sendiri, yang pada akhirnya bangsa Yadawa tertumpas habis dengan sendirinya.. .

Prabu Kresna terperanjat mendengar supata Dewi Gendari. Keadaan menjadi hening, tidak satu pun orang bersuara. Prabu Drestarastra merasa bahagia ketika mengetahui  Werkudara masih hidup. Werkudara kemudian merangkul Prabu Drestarastra, Prabu Destarastra mengharap diantara yang masih hidup jangan ada pertengkaran lagi, jangan ada pembunuhan lagi. Prabu Batara Kresna mohon maaf kepada Prabu Drestarastra dan Ibu Gendari serta siapa saja yang dendam pada Prabu Kresna dan juga atas nama Pandawa, yang didalam perang Bartayudha juga memakan korban banyak  para putera Pandawa,  termasuk juga kehilangan saudara saudara saudara para Kurawa.  maupun Kurawa. Prabu Drestarastra akhirnya merelakan kepergian seluruh para putreranya, yaitu Para Kurawa.

Para Pandawa kemudian mohon pamit untuk memasuki pakuwon Pandawa. Disanalah para Pandawa beristirahat, Sementara itu Dewi Utari telah melahirkan sorang anak yang tampan. Arjuna memberi nama Parikesit.Setelah kelahiran Parikesit, Prabu Sri Batara Kresna berpesan agar Para Pandawa tidak boleh lengah, tetap waspada, dan jagalah bayi Parikesit dari segala yang mengancam. Prabu Kresna berpesan agar jangan sampai bayi ditegakan tidak dijaga, dan dibawah kaki Parikesit, ditaruh senjata pusaka Pulanggeni yang sudah dilepas dari warangkanya..Setelah banyak berpesan Prabu Sri Batara Kresna berpamitan kembali ke Dwarawati. Karena Dwarawati dalam keadaan darurat.Sampai di tengah  malam Pandawa masih kuat untuk berjaga menunggui bayi Parikesit yang tidur di tempat nya.

Sementara itu Aswatama yang sudah lama menghilang dari medan perang Kurusetra, yang sejak pengangkatan Prabu Salya menjadi senapati, dimana Aswatama memprotes pengangkatan itu, karena sudah jelas kelihatan curangnya Prabu Salya yang menyelamatkan kermatian Arjuna dari Karna,


Kini Aswatama telah muncul kembali.. Kali ini ia telah menghimpun kekuatan baru, yaitu bergabung dengan Resi Krepa dan Kertawarma. Kertamarma adalah  adik Prabu Suyudana yang satu satunya masih hidup.  Para Pandawa dan bahkan Prabu Drestarastra tidak menyangka, ternyata masih ada sisa Kurawa yang masih hidup.

Mereka berencana mau memberontak ke Astina, untuk merebut kembali Astinapura  ketangan Kurawa, Tetapi mereka tak ada keberanian. Pertapaan Sokalima walaupun luasnya sama dengan kerajaan Pancala, namun tidak memiliki perajurit. Mereka memutuskan akan memasuki Istana Astina secara diam diam, pada malam hari dan akan membunuh orang orang Pandawa sebanyak banyaknya.

Sebenarnya Aswatama sudah membuat terowongan di taman Kadilengen, dan sudah tembus ke Goa. Sekarang Aswatama dengan bekal sebuah oncor sebagai penerang jalan,dan ditemani Kertawarma dan Resi Krepa memasuki. Namun ditengah jalan, mereka terkejut karena ada sebagian tanah yang gugur sehingga menutup jalan masuk ke goa. Aswatama terpuruk, terlebih lebih ketika api oncor padam, tidak tahu harus bagaimana. Tiba tiba saja ada cahaya yang menerangi Goa. Ternyata Dewi Wilutama datang menolong.

Dewi Wilutama adalah ibu Aswatama. Dewi Wilutama  menerangi goa dengan sinar dari kedua telapak tangannya.  Pintu  goa yang telah dilalui juga roboh dan menutupi pintu goa. Sehingga walaupun mereka pulang juga tidak bisa keluar. Mereka terjebak didalam goa, pulang tidak bisa, terus juga tidak bisa.

Dewi Wilutama menanyakan,apakah mereka mau mmembatalkan niatnya sehingga mau kembali ke jalan semula, atau mau meneruskan kehendaknya., Aswatama ingin meneruskan perjalanannya ke Astina. Dewi Wilutama tidak mau membantu keinginan dan tidak mau ikut bertanggung jawab atas perbuatan Aswatama yang akan dilakukan. Dewi Wilutama membuka jalan ke pintu depan  Goa. Sehingga apabila mereka berniat mau pulang kembali, bisa lewat  kepintu goa semula. dan akan keluar dengan mudah. Namun

Dewi Wilutama tidak tega pada Aswatama,karena Aswatama sudah tidak bisa dihentikan niatnya. akhirnya Dewi Wilutama memberikan senjata untuk menyingkirkan tanah tanah yang menghalangi perjalananannya. Ibunda Dewi Wilutama tidak ikut bertanggung jawab apa yang hendak dilakukan oleh Aswatama, dan disarankankan anaknya pulang saja kembali ke Sokalima.

Resi Krepa ganti membujuk Aswatama agar pulang saja kembali ke Sokalima. Akhirnya Resi Krepa meninggalkan mereka semua, kembali ke pertapaannya.  Dewi Wilutama  sebelum meninggalkan Aswatama meninggalkan  pusaka cahaya, yang akan menerangi goa, sampai Aswatama keluar dati goa, dan sampai ditaman Kadilengen, maka kembalilah Dewi Wilutama kembali kekahyangan..

Dalam waktu singkat Aswatama beserta Kertawarma telah memasuki Istana Astinapura. Kertawarma tidak mengikuti kepergian Aswatama yang memasuki Istana Astinapura. Kertawarma menunggu diluar istana. Ia bersembunyi di luar Istana.

Aswatama membaca mantera agar orang orang yang ada didalam Istana Astina tertidur.Sementara itu seluruh penghuni Istana telah tertidur semua. Memasuki kamar pertama, terlihat Pancawala dan Drestajumna sedang tidur dengan nyenyaknya. Tanpa pikir panjang lebar, ditebasnya calon Raja Astina baru, Pancawala dan Pembunuh ayahnya, Drestajumna sehingga terpelantinglah kedua kepalanya.

Dendam masih membara ia membuka kamar yang kedua, terlihat Srikandi tidur tergeletak tidak berdaya, ia kelihatan lemah gemulai seperti wanita wanita biasa  lainnya, walaupun dalam perang Baratayudha ia kelihatan gagah perkasa bagaikan seorang pria jantan dalam menghadapi musuh musuhnya. Ia akan segera membunuhnya, tetapi dirasanya percuma saja karena tidak merasakan sakitnya kalau dibunuh, Srikandi tidak akan merasakan kematiannya. Dengan cepat penuh dendam Aswatama menjambak rambut Srikandi. Srikandi terbangun, dan terkejut ada Aswatama masuk kamar dan dirinya sudah di pegang oleh Aswatama. Ia berusaha melawan tetapi tidak berdaya. Aswatama menjambak Srikandi dan membentur-benturkan kepala Srikandi ke dinding kamar, hingga tewas.

Dendam masih membara, ia melihat Dewi Sembadra sedang tertidur pulas,langsung dibunuh sebagai pembayar utang Arjuna, demikian pula Niken Larasati dan Sulastri terbunuh.

Dilihatnya pula Dewi Banowati istri Prabu Suyudana, dengan pandangan sinisnya, menganggap Banowati,  adalah  seorang wanita murahan, dengan mudahnya selingkuh drngan Arjuna. Tanpa ampun lagi Banowati dibunuhnya.

Aswatama tidak mengetahui posisi dimana Parikesit tidur karena pengaruh senjata Pulanggeni, dan pasti pula ada didalam lindungan Dewata. Aswatama melihat pula Dewi Drupadi, namun ketika akan membunuhnya terdengar, seperti ada suara tangisan bayi, Aswatama terkejut. Ia mengalihkan niatnya untuk membunuh Drupadi,  dan ia melihat dengan mata batinnya suatu tempat yang penuh kabut.  Aswatama melihat bayi itu. Aswatama memandang benci kepada Parikesit, karena Pancawala sudah terbunuh, maka bayi ini adalah pewaris tahta Astina pura. Segera Aswatama berusaha menikam bayi itu. Tetapi kekuasaan dewa yang menentukan lain. tiba tiba saja keris Pulanggeni yang terletak dibawah kaki jabang Parikesit,tertendang sang bayi, dan keris Pulanggeni terpental dan menembus dada Aswatama,  Aswatama tewas.

Sementara ada keributan dan suara tangisan mereka yang terhindar dari pembunuhan, seperti Dewi Untari dan dewi Drupadi. Menjadikan Werkudara dan Arjuna terbangun dari tidurnya. Mereka langsung keluar dari Keputren. Sementara itu, Kertawarma bersiap memukul Werkudara, andaikata melewati persembunyiannya. Werkudara akhirnya melewati persembunyian Kertawarma. Melihat Werkudara berjalan melewati persembunyiannya, Kertawarma segera memukul Werkudara dengan gadanya dengan keras, namun Wekudara dapat menangkisnya.

Terjadilah perkelahian, antara Werkudara dan Kertamarma.Kepala Kertawarma pecah terkena pukulan Gada Rujakpala, Kertamarma pun tewas Pandawa pagi ini dirundung duka. Semua istri Arjuna yang berada di Istana terbunuh semua, juga Dewi Drupadi kehilangan puteranya Pancawala, Srikandi dan Drestajumna. Arjuna semakin tersayat hatinya, melihat jasad DewI Banowati yang wajahnya dirusak oleh Aswatama..

Seluruh keluarga Pandawa berduka. Prabu Kresna kecewa tidak bisa ikut menjaga ketentraman Istana Astina. Prabu Kresna sendiri masih menghadapi  pergolakan keluarga Yadawa. Prabu Kresna minta agar Puntadewa segera menyiapkan pemerintahan Astina. Untuk itu dibutuhkan pengangkatan seorang raja. Kemudian mereka merencanakan pelantikan seorang raja. Setelah mereka berembug maka ditunjuklah Parikesit menjadi Raja Astina. Mengingat Parikesit masih bayi, maka Puntadewa diminta untuk menjadi wali. Maka diangkatlah Prabu Puntadewa mewakili Parikesit. Dengan gelar Prabu Kalimataya. Uwa Drestarastra merestui pengangkatan Puntadewa menjadi Ratu Wali. Prabu Kalimataya dalam pemerintahannya dibantu oleh Sadewa, Sadewa ditunjuk menjadi patih Kerajaan Astinapura.

sedangkan Nakula menjadi raja di Mandaraka menggantikan uwanya, Prabu Salya. Prabu Salya lebih mencintai kedua anak Dewi Madrim adiknya. Lagi pula seluruh anaknya tewas dalam perang Baratayudha.Sedangkan Saewa menjadi patih di Astinapura, mendampingi Prabu Parikesit.

Cerita Aswatama nglandak,atau Aswatama Nggangsir atau dikenal juga dengan Parikesit Lahir. Nglandak artinya berperilaku seperti landak, jadi maksudnya Aswatama, Kartamarma dan Resi Krepa bermaksud  ke Astinapura, untuk membunuh para Pandawa dan keluarganya,  dengan cara  membuat nggangsir dari bawah tanah menuju Asrinapura .***

more.

PRABU DURYUDONO GUGUR

0 komentar

Malam itu di Pesanggrahan Pandawa Mandalayuda, Prabu Puntadewa masih duduk di bangunan yang dirupa sebagai pendapa. Diantaranya duduk Prabu Matswapati dan Prabu Kresna.

“Eyang Baginda, tak ada rasa sedih seperti yang terjadi pada saat ini. Kemenangan demi kemenangan telah kami dapatkan hari demi hari disepanjang Perang Baratayuda Jayabinangun ini. Namun kemenangan demi kemenangan telah dibeli dengan jatuhnya tawur para saudara, orang tua, guru, dan semua orang yang sepantasnya hamba beri kemukten. Puncaknya, hari ini, tangan hamba telah mengantarkan Uwa Prabu Salya ke tepet suci. Sekecil ujud debupun, hamba tidak mengira, bahwa gerak tangan hamba ini akan menjadi lantaran perginya Uwa Mandaraka”. 

Prabu Matswapati menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Prabu Puntadewa adalah hal yang sangat dipahaminya. Sesal sekecil apapun pasti membekas di dada Puntadewa yang begitu teguh memegang kesucian diri. Maka sejurus kemudian ia berkata, “Cucu Prabu, sebagaimana telah terjadi pada trah Matsya, tumpasnya anak anak lelaki yang aku punyai Seta, Utara dan Wratsangka pada mulanya telah membuat sesal dan sedih. Tetapi semoga cucu Prabu menjadikan contoh dari perasaanku terhadap takdir. Semua kejadian yang telah terjadi hendaknya dipasrahkan saja kepada Yang Maha Mengatur. Berikanlah jiwa ini keringanan beban, serahkan segalanya kembali kepada-Nya, sehingga kita menjadi ringan dalam melangkahi hari hari didepan.

Kalimat yang dikatakan Eyangnya yang sangat dihormati telah sedikit memberi pencerahan di hati Prabu Puntadewa yang segera mengatakan isi hatinya yang masih terpendam “Sabda Eyang Baginda Matswapati sedapat mungkin akan hamba akan lakukan. Tetapi Eyang, masih ada beberapa saudara kita Kurawa termasuk Kanda Prabu Duryudana masih belum kelihatan dalam perang hari ini. Maka perkenankan hamba mohon kepada Kanda Prabu Kresna, mumpung dalam pertemuan ini juga hadir, agar besok hari untuk bersama sama membimbing saudara saudara kami Pandawa, untuk mencari keberadaan kanda Prabu Duryudana. Ajaklah kanda Prabu untuk kembali ke Astina”. 

Sejenak Prabu Puntadewa terdiam, seakan ada sesuatu yang penting hendak disampaikan; “Eyang, hamba akan pasrahkan seutuhnya Negara Astina untuk membangun kembali diatas reruntuhan yang terjadi dalam perang. Hamba bersaudara telah mengambil keputusan untuk hanya menempati Negara yang kami bangun dengan keringat dan darah kami sendiri, Negara Indraparahasta atau Amarta!”

Tersenyum Prabu Matwapati,  sangat mengerti ia akan keluhuran budi cucu yang satu itu. Keputusan yang sebenarnya telah disampaikannya pada sebelum korban berjatuhan dan menjadi luluh lantak. Walau kemenangan sudah dikatakan telah ada di tangan, tetapi keputusan semula masih saja ia pegang  “Cucu Prabu Punta, begitu luhur budimu. Untukmu kaki Kresna, segera setelah sidang sore ini terlaksana, bersiaplah untuk mencari keberadaan Prabu Duryudana. Eyangmu sangat setuju dengan putusan yang diambil oleh cucu Puntadewa, yang hanya mengambil Negara yang dibangun atas landasan hutan Mertani ketika itu.

Maka ketika cerah mentari pagi telah menerangi hari, Prabu Kresna telah berada diluar Medan Kuru yang hari itu menjadi demikian sepi. Hiruk pikuk peperangan yang telah berlangsung sejak delapan belas hari telah menyisakan pemandangan yang begitu mengerikan.

Namun Prabu Kresna teringat akan ucapannya ketika Prabu Baladewa yang disisihkan dengan tipu dayanya, agar tidak ikut ikutan dalam perang, dan harus bertapa di Grojogan Sewu atau air terjun dengan seribu alur. Tetapi ia berjanji bahwa walaupun hanya sekejap sajapun, kakaknya diberi waktu untuk menyaksikan perang itu.

Disitu Prabu Baladewa bertapa memuja ke hadapan Dewa, agar diberikanlah kerukunan antara saudara saudaranya Kurawa dan Pandawa. Ketika itulah Kresna sudah sampai di tempat Prabu Baladewa bersemedi.

“Dosa besarlah namanya, Werkudara, bila seseorang membangunkan orang yang sedang bertapa. Tetapi kali ini ada hal yang tidak dapat ditunda lagi. Mari dinda, bantu aku mengheningkan cipta untuk membangunkan kanda Baladewa dengan aji Pameling”. Kata Kresna kepada Werkudara setelah berada di hadapan Prabu Baladewa yang selalu dijaga putranya Raden Setyaka.

Segera Prabu Kresna bersemadi membisikkan aji Pameling kearah telinga hati Prabu Baladewa. Demikianlah pesat cipta Prabu Kresna telah mampu mengubah jalannya waktu. Terkena aji Pameling, Prabu Baladewa seketika terbangun dari tapa. Bagai bangun dari tidur dengan mimpi yang nggegirisi, dihadapannya telah berdiri Kresna dan Werkudara.

“Dinda kamulah yang aku tunggu, apakah Baratayuda sudah dimulai. Atau bahkan perang  sudah selesai?”

“Kurawa sudah tumpas hari ini kanda Prabu. Tetapi ada satu yang masih kita cari, Prabu Duyudana”. Jawab Kresna.

“Jagad dewa batara, ternyata tragis akhir hidup para Kurawa. Sudahlah, sekian saja Werkudara, cukup sampai disini kita menyudahi pertengkaran yang membawa kehancuran. Kamu harus ingat bahwa Pandawa dan Kurawa adalah berasal dari satu turun. Turun dari Eyang Wiyasa. Betapapun pasti Eyang Wiyasa sangat sedih melihat apa yang sudah terjadi”.

“Sudah aku ingatkan kanda Prabu Duryudana sejak semula tapi itulah yang terjadi” Jawab Werkudara.

“Mari Kanda, kita cari dimana dinda Duryudana sekarang berada. Dinda Punta sudah merelakan Negara Astina tetaplah menjadi milik Kurawa”. Ajak Kresna
Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali dengan mengerahkan ketajaman insting Kresna. Tak lama kemudian terlihat seekor gajah yang dengan tenangnya merumput.
 

“Lihat kanda, kita bertemu dengan gajah yang tidak asing lagi. Gajah Kyai Pamuk. Tetapi lihat lagi, dipunggung gajah itu terlihat busana dari Prabu Duryudana, serta bermacam senjata. Hamba pikir di telaga itulah Prabu Duryudana bersembunyi dibawah rimbunnya tanaman teratai merah yang mengambang”.

“Aku juga berpikir begitu. Biarlah aku akan memanggil Prabu Duryudana. Betapa kangennya rasa hati ini walau tidak sampai sebulan aku telah terpisah. Dan akan aku tebus tapaku untuk kedamaian antara saudara saudaraku Pandawa dan Kurawa”. Baladewa menimpali.

Dengan lantang kemudian Baladewa memanggil manggil Prabu Duryudana , “Dinda Prabu, ternyata dinda ada disini. Sudah kangen rasa ini untuk bertemu dengan dinda Prabu Duryudana. Saya kakakmu Prabu Baladewa. Dinda, perkenankan dinda keluar dari air telaga walaupun hanya sebentar. Kita dapat berbicara dari hati kehati”.

Suara itulah yang ditunggu tunggu Prabu Duryudana. Walau sayup suara Prabu Baladewa karena lebarnya telaga, namun ia telah yakin, yang ditunggu sudah tiba. Keluar dari tempat persembunyian ditengah telaga dan segera mendekati arah Prabu Baladewa. Berrangkulan keduanya tanpa menghiraukan sekelilingnya.

“Terimakasih kanda telah bersusah payah mencari kami, kanda. Kandalah yang selama ini hamba tunggu. Bukannya hamba lari dari tanggung jawab, ngeri atau pengecut, tetapi hamba ingin melawan musuh hamba dengan olah gada. Olah gada yang kanda Prabu ajarkan. Selayaknya kanda Prabu menjadi saksi ketrampilan olah gada yang aku tekuni. Sepantasnya guru menjadi saksi kesaktian muridnya”.Duryudana berkilah.

“Oooh dinda, kami datang bukan untuk menantang perang. Tetapi justru kami datang dengan ajakan berdamai. Telah banyak para orang tua tua kita yang menjadi tawur perang! Kami beserta para Pandawa telah bersepakat untuk mengajak paduka dinda untuk kembali ke Astina, dan melupakan kejadian yang telah lalu, yang sejatinya kita bisa jadikan pelajaran kita melangkah kedepan”. Baladewa mencoba memberikan penjelasan.

“Para Pandawa sudah menerima bahwa mereka rela menyerahkan Negara Astina dan hanya meminta negara Amarta yang mereka bangun dengan jerih payah sendiri”.

Namun jawaban Prabu Duryudana tidak menjadikannya persoalan selesai“Tidak, tidak kanda! Kanda telah mengecilkan hamba. Prajurit kami telah gugur berribu ribu jumlahnya. Apa gunanya hamba yang tinggal sendirian takut mati. Tidak! Hamba adalah raja besar. Raja yang sudah bertahun tahun hidup dalam kemuliaan. Tidak selayaknya hamba melepaskan begitu saja tanggung jawab itu”.

Dibiarkannya Prabu Duryudana menumpahkan rasa hatinya oleh Baladewa, sesat kemudian Duryudana menyambung “Kalah atau menang, Pandawa akan kecewa. Seumpama saya yang menang itu sudah menjadi kewajiban kami untuk membangun kembali kemuliaan kami, dan kemuliaan Prabu Duryudana akan menyudul hingga kelangit tujuh. Tetapi bila Pandawa yang menang, mereka akan kecewa. Negara Astina sudah hancur. Mereka hanya akan merawat anak anak yatim dan janda janda korban perang. Mereka hanya akan menemukan reruntuhan demi reruntuhan”. 

Menarik nafas panjang Prabu Baladewa yang kemudian menggelengkan kepala lemah, katanya “Keterlaluan dinda Duryudana yang mempunyai watak gunung. Tak bisa diperlakukan rendah. Baiklah sekarang kanda akan menuruti kemauan dinda Prabu”.

“Paduka Kanda Prabu Baladewa hendaknya menjadi saksi, kami minta perang tanding gada dengan salah seorang Pendawa, yang mempunyai sosok seimbang”. Jawab Duryudana.

Demikianlah, setelah selesai mengenakan kembali busana keprajuritan yang terletak dipunggung gajah, maka Duryudana telah berhadapan dengan Werkudara. Satu lawan satu! Kresna mendekati Werkudara sebelum perang tanding dimulai dengan membisikkan sesuatu yang disusul anggukan kepala Werkudara penuh arti.


Ketika Prabu Duryudana bergeser, maka Werkudara-pun bergeser pula. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa Duryudana itu sudah siap untuk meloncat menyerangnya.

Tetapi Werkudara-pun sadar, bahwa Duryudana mulai serangan gadanya dengan menjajagi kemampuannya, sebagaimana juga akan dilakukan oleh Werkudara.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Duryudana meloncat menyerang dengan penggada tepat kearah dada. Namun seperti yang diduga oleh Werkudara, Duryudana belum mempergunakan tataran ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian namun pukulan itu seakan-akan telah meluncur secepat lidah api dan melontarkan angin yang keras mendahului gerak tangan Duryudana yang terjulur itu.

Werkudara bergeser selangkah menyamping. Meskipun ia tahu bahwa lawannya belum menyerang dengan sepenuh kemampuan, namun Werkudara tidak mau merendahkannya. Karena itu, sejak awal ia telah mulai mengetrapkan ilmu kebalnya Bandung Bandawasa. Ilmu yang dapat melindungi ujud wadagnya, meskipun ia masih belum yakin jika serangan lawannya cukup kuat dengan lambaran ilmu yang sangat tinggi, hingga serangan itu akan dapat menyusup, dan memecahkan perisai ilmu kebal itu.

Berapa saat, pertarungan berjalan semakin seru.Tetapi baik Werkudara maupun Duryudana tidak mau tergesa-gesa. Justru karena masing-masing melihat kelebihan lawannya, mereka harus mebuat perhitungan yang sebaik-baiknya dalam pertempuran itu. Bagaimanapun mereka tidak boleh membuat kesalahan yang akan dapat menjerumuskan mereka kedalam kesulitan yang gawat.

Serangan-serangan Duryudana itu semakin cepat menyambar nyambar Werkudara dari segala arah. Langkahnya seakan-akan sama sekali tidak diberati oleh bobot tubuhnya. Seperti seekor burung sikatan Duryudana itu meloncat menyambar dan sekali sekali mematuk dengan gadanya.

Sengitnya perang tanding masih diawasi dengan tegang oleh Prabu Kresna dan Baladewa. Sebentar sebentar mimik muka keduanya menegang, sebentar kemudian kembali cair. Terasa kesiur angin panas dari ayunan gada  mulai menampar tubuh keduanya dan memaksanya sedikit menjauh dari arena pertempuran. Sementara pukulan gada keduanya dari waktu ke waktu semakin dahsyat. Keduanya telah sampai pada tataran teringgi kemampuannya. Kekuatan yang bagaikan taufan saling menghantam badan keduanya, tetapi mereka adalah manusia manusia pilihan yang telah tertempa oleh pengalaman berguru dan pengalaman tempur yang panjang.

Duryudana melontarkan gelombang-gelombang pukulan gada yang dahsyat beruntun susul menyusul. Namun Werkudara dengan ajian Blabak Pengantol antol dan dibantu sukma Kumbakarna yang menyatu selagi Werkudara ada di lereng gunung Kutarunggu, sangat sulit ditaklukkan. Sementara tamparan serangan itupun mulai terasa bagaikan panasnya uap air yang sedang mendidih menyengat tubuhnya. Arena perang tanding telah menjadi hangus bagai terkena sengatan halilintar. Bahkan suara gelegar benturan kedua gada pusaka terdengar membahana bagai sejuta guruh dilangit berpetir.

Namun kekuatan Duryudana adalah kekuatan simbol dari angkara murka yang tidak begitu saja dapat diatasi oleh laku kebaikan. Maka perang tanding itu sudah seharian tanpa ada kelihatan siapa yang bakal unggul. Setingkat demi setingkat Duryudana itu meningkatkan ilmunya yang nggegirisi. Kekuatan angin yang melanda Werkudara oleh kesiur gadanya menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian angin itu mulai berputar, Werkudara  mulai merasa dirinya dihisap oleh pusaran angin yang begitu panas. Seolah-olah pusaran air yang mempunyai kekuatan tidak terbatas telah menghisapnya keatas. Sedangkan udara panas semakin lama menjadi semakin panas menerpa kulitnya. Namun aji Blabak Pangantol antol telah menerapkan dirinya bagai terpaku dalam tanah.  Dalam satu kesempatan ketika Duryudana melompat menyerang, maka dikenai pahanya sebelah kiri Prabu Duryudana dengan penggada yang bagai bobot gunung Semeru. Dengan keluh terahan, disusul kata kata kotor, ambruk Prabu Duryudana!

Tetapi begitu Duryudana mencoba bangkit, sekali dua kali, tiga kali gada Werkudara masih saja menggempur tubuhnya. Remuk rempu tubuh Duryudana tak berujud lagi.

Prabu Baladewa murka melihat Prabu Duryudana yang sudah tidak berdaya terkena hajaran gada Werkudara. Walau ia mengerti bahwa kekuatan Duryudana tiada tara namun kekuatan gada Werkudara yang bagai bobot gunung Mahameru pasti akan menghancurkan sosok Duryudana.

“Keparat Werkudara ayoh tandingi aku Baladewa. Jangan mentang mentang kamu menang, sehingga kamu berlaku sia sia terhadap pihak yang kalah. Duryudana sudah tidak berdaya kamu perlakukan seperi layaknya binatang buruan! Ayoh tandingi Baladewa!”

Kresna yang dari tadi siaga menjaga agar tidak ada peristiwa yang mengkhawatirkan terjadi, telah menyongsong gerak Prabu Baladewa,“Sabar kanda, sabar. Hamba sudah bilang sebelumnya, kemauan hati tak lah kuasa untuk membelokkan takdir. Baratayuda dalah peristiwa luwarnya kaul atau janji, itu hal yang pertama. Kedua adalah arena tagih menagih antara yang menghutangi dan yang diberi hutang, baik dalam hal rasa ataupun budi pekerti. Dan ketiga adalah, syarat bagi hilangnya angkara murka. Hilangnya angkara itu kanda, tidaklah bisa sirna bila tidak bersamaan dengan yang menyandangnya”. 

Kresna yang melihat di mata kakaknya sudah surut kemarahannya segera menyambung, “Mestinya ada banyak peristiwa yang tentunya kanda Prabu sudah mengerti bahwa Prabu Duryudana juga mempunyai hutang budi, hutang pati dan hutang seribu malu yang disandang manusia manusia yang telah ia hutangi. Maka kanda, ikhlaskan kematian Prabu Duryudana. Marilah kita bersama melangkah kedepan dalam satu tindakan bersama sama para saudara kita Pandawa, yang telah terbukti menjadi sarana hilangnya angkara”.

Hari kembali buram di sore itu sewaktu perang tanding berakhir. Kembali langit membiaskan layung senja yang entah kapan sore berlayung itu akan berakhir. Demikianlah, setelah merawat jenazah Duryudana maka ketiganya telah kembali menghadap Baginda Matswapati di Hupalawiya.

Golongan Kurawa, Kartamarma dan Aswatama masih berkeliaran. Namun Perang Dunia ke empat ini praktis telah berakhir . . . .


Surak surak manengker gumuruh
Swaraning wadya surak gambira
Unggul Baratayuda para Pandawa
Labuh Negara Astina balane
Kurawa gugur tengahing palagan
Pandawa . . . Pandawa unggul ing prang Baratayuda.
more.

SALYA GUGUR

0 komentar

Bayangan jingga belum lagi terbias diantara mega mega di langit timur, ketika Aswatama telah berada jauh jaraknya dalam pencarian jejak Banuwati. Kelamnya hutan dan  kabut menjelang pagi amat mempersulitnya dalam melacak lari kuda yang ditumpangi Banuwati. Jejak kaki kuda dan patahan ranting yang masih baru kadang masih dapat terlihat sebagai tanda lacaknya, namun sejatinya kuda itu telah lama kehilangan penumpangnya yang terperosok jatuh di tempat yang sudah jauh tertinggal.

“Keparat Banuwati, kau telah membuat dendamku makin dalam! Ya, tidak ada yang dapat aku katakan, belum akan mati dengan dada lapang Aswatama, jika aku belum berhasil membunuh perempuan celaka yang berlindung dibalik kecantikan parasnya!” Perasaan sesal dan dendam melonjak lonjak dalam dada Aswatama. Segenap sisi hutan telah ia selusuri meneliti dengan seksama tanda tanda dimana adanya Dewi Banowati, namun Sang Dewi seolah ditabiri oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.

Sementara itu di Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

“Pinten, Tangsen,  duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasihSang Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa basi.

“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya  menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.

“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam kepengin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian saja”.


Yang diajak bercerita masih diam sambil sesekali mengangguk anggukkan kepalanya. Dibiarkannya uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali kali ia dengar dari mulut uwaknya, Prabu Salya.

“Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dengarkan ya”. Prabu Salya menyambung, “Ibumu, Madrim,  ternyata meniru tindakan Istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu, tetapi cinta Batara Guru terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri Kaelasa”. 


Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil.“Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki lembu Andini. Tak lah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa berdua ada punggung Lembu Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka  melakukan olah asmara diatas punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kama salah, jatuh kelautan dan menjelma menjadi raksasa yang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang suci-bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan”.


“Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah mentah oleh ayahmu, Pandu. Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa bagi Kahyangan. Ayahmu lupa bahwa ia telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh Kahyangan, Prabu Nagapaya. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala. Bahkan ayahmu telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati dan rasa cinta terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya”. 


Walau mereka berdua telah berkali kali mendengar cerita tentang kedua orang tuanya, tetapi tidak urung Nakula dan Sadewa telah meruntuhkan air matanya. Kali ini uwaknya menceriterakan kembali peristiwa yang mengiringi riwayat kejadian atas diri mereka berdua.

“Perlukah aku ceritakan bagaimana kematian kedua orang tuamu? “Sejenak Nakula Sadewa terdiam. Mereka teringat, kedatangan mereka sebenarnya adalah dalam tugas negara. Seperti perintah yang diberikan oleh Prabu Kresna, mereka diberikan kewajiban untuk bagaimana melululuhkan hati uwaknya, agar dalam perang di terang hari nanti, uwaknya akan merelakan hidupnya untuk kejayaan Para Pandawa. Kresna telah mengetahui, bila tidak ada usaha untuk membuat Prabu Salya merelakan kematiannya, maka Para Pandawa tak akan dapat mengalahkan senapati bentukan Prabu Duryudana kali ini, yaitu Prabu Salya.

Maka Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan untuk mengulur perasaan Prabu Salya, agar nanti dengan gampang masuk mengutarakan maksudnya.

Mereka pun menjawab, “ Uwa Prabu, kami akan mendengarkan apa yang hendak Uwa Prabu ceriterakan”


“Baiklah.  Ketika kamu dikandung ibumu menjelang kelahiranmu, terjadi pemberontakan oleh  sebuah negara yang ada dalam bawahan Negara Astina. Negara Pringgondani yang  dipimpin oleh Prabu Trembuku hendak memisahkan diri dari kekuasaan Astina. Prabu Trembuku yang merasa sudah kuat dan mampu mengalahkan ayahmu telah dengan berani melakukan pememberontakan. Dalam perang tanding antara ayahmu dan Prabu Trembuku, ayahmu dapat mengalahkan kesaktian Prabu Trembuku yang kala itu menggunakan pusaka berujud keris yang bernama Kala Nadah. Sekali lagi kukatakan, ayahmu adalah orang yang tinggi hati. Prabu Trembuku, oleh ayahmu,  sudah dianggap tak berdaya, hingga ayahmu Pandu lengah. Ketika sesumbar atas kemenangannya, ayahmu melangkah hendak berdiri diatas tubuh Kala Trembuku, sebagai tanda atas kemenangannya. Namun Trembuku ternyata masih kuat untuk menusukkan senjata keris Kala Nadah ke telapak kaki ayahmu. Berhari hari Keris Kyai Kala Nadah mengeram dikakinya. Tak ada seorangpun yang mampu mencabut keris Kala Nadah, hingga membuat kesehatan ayahmu menurun hari demi hari. Dan akhirnya, ketika kamu berdua terlahir kedunia, yang disertai kematian ibumu karena kehabisan darah, ayahmu juga ikut wafat setelah memberi nama buat kamu berdua”. 


Sebentar prabu Salya membenahi tempat duduknya dan bergeser duduknya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Kegaiban terjadi, ketika kedua orang tuamu telah wafat, tiba tiba saja jasad keduanya telah hilang tak berbekas. Sudah menjadi suratan takdir bahwa kematian kedua orang tuamu adalah menuai apa apa yang mereka tanam. Janji ayahmu Pandu untuk sanggup menjadi kerak Neraka Yomani, telah berbuah. Ucapan orang tuamu ketika meminjam Lembu Andini, sanggup mukti waktu itu, dan sanggup sengsara kemudian telah menjadi kenyataan”. 


“Keris perenggut nyawa ayahmu diberikan oleh pamanmu,Yamawidura, kepada Arjuna kakakmu. Sejak saat kamu berdua menghirup udara dunia, kamu sudah ada dalam asuhan ibu dari Puntadewa, Werkudara dan Arjuna, ya Kunti itulah yang memberi perlindungan atasmu sebagaimana ia memperlakukan kasihnya terhadap anak kandungnya. 


Maka itu Pinten, Tangsen, perlakukan ibumu, Kunti, dengan kasih yang sepenuh hati. Perlakukan ibumu Kunti, seperti saudara saudaramu tua menyayangi ibunya”.


“Semua titah Uwa Prabu sudah hamba lakukan, sebagaimana Ibu Kunti dengan tak membeda bedakan kasihnya antara kami berdua dengan saudara saudara 
kami yang lahir dari rahim ibu Kunti”. Jawab Nakula dan Sadewa serentak dengan suara yang sedikit serak, ketika uwaknya menghentikan ceritanya sesaat.

“Baik”, sekali ini Prabu Salya kembali menghela nafas panjang dengan senyum puas, “Selain dari pada itu anak anakku, kamu berdua hendaklah tidak pernah menyerah dalam menjalani Perang Baratayuda ini. Tetaplah ada pada kedekatan jarakmu dengan kakakmu Puntadewa. Aku lihat kamu sekarang malah datang kehadapanku di Mandaraka. Apa yang hendak kau sampaikan Pinten, Tangsen”.


Kedua bersaudara kembar itu saling berpandangan. Keduanya merasa pintu telah terbuka. Kemudian bersepakat dengan sinar matanya, siapakah yang hendak menyampaikan hal penting sebagai utusan dari Prabu Kresna. “Siapakah diantara kami Para Pandawa yang tidak merasa khawatir, sebab kami telah mendengar bahwa terang tanah hari ini, Uwa Prabu sudah diangkat wisuda sebagai senapati perang Astina. Tak lain yang akan dihadapi adalah kami semua saudara Pandawa”.


Berdebaran dada Nakula yang hendak menyatakan inti dari maksud kedatangannya. Kembali dengan suara parau ia mengatakan, “Maka Uwa Prabu, dari pada memperpanjang cerita, yang tidak urung nanti Para Pandawa akan runtuh di medan Kuru, maka kami akan menyerahkan kematian kami sekarang juga, Uwa. Dan akan jelaslah bahwa kematian kami, kemenakan Paduka Uwa Prabu, adalah atas tangan Paduka Uwa Salya”.


Terkaget sejenak Prabu Salya mendengarkan uraian kedua kemenakannya, dengan suara meninggi ia mengatakan, “ Heh . . . apa yang kamu ucapkan? Sedari tadi aku menceriterakan bagaimana keperwiraan orang tuamu, Pandu, juga dengan segala kelemahannya. Bagaimana orang tuamu yang semua orang di jagat ini telah tahu, ternyata ia juga adalah bagaikan seekor harimau yang sangat ditakuti. Kesaktian dan kewibawaan  orang tuamu ibarat bisa menunduk-runtuhkan gunung Himawan. Tetapi apa yang terjadi terhadapmu, tidaklah membekas apa yang ada pada Pandu yang melekat pada dirimu. Harimau itu  ternyata hanya beranak dua ekor tikus!”


Hening melimputi suasana sanggar pamujan, dengan pikiran berputar putar pada rongga kepala ketiga manusia didalam sanggar itu. Namun sejenak kemudian dengan suara berat Salya bertanya kepada kedua kemenakannya, “Baratayuda itu sebenarnya siapa yang berperkara?”


Hampir serempak kedua satria itu menjaawb, “Itu perkara hamba Para Pandawa dan Kurawa”.


“Bila benar begitu, kenapa perkara itu justru merembet kepada para pepundenmu, para orang tua orang tua yang seharusnya kamu beri kemukten. Kamu berikan kebahagian. Malah orang tua orang tua itu telah kamu jadikan korban. Dan bila kamu adalah manusia manusia yang berakal, tentunya kamu tidak akan menghadapku dan menyatakan minta aku bunuh disini. Itu seperti halnya kamu sudah melihat hal yang sudah pasti, sehingga kamu telah mengambil kesimpulan.” Kata Prabu Salya dengan kalimat yang bertekanan.

“Kalau kamu berdua datang bukan kepada Prabu Salya, maka tentu yang kau datangi sudah menumpahkan rasa iba. Tapi bagiku, kedatangan kamu berdua hanya merupakan gambaran dari betapa kamu berdua adalah sebetul betulnya manusia yang berjiwa kerdil”. Ketus Prabu Salya menyambung.

“Werkudara kakakmu, adalah seorang manusia yang teguh bukan hanya tergambar dari kewadagannya, tetapi keteguhannya merasuk jauh hingga ke lubuk hati dan jiwanya yang paling dalam. Aku telah menjadi saksi, betapa dengan keteguhannya, dengan segala kekuatannya ia berrenang dalam banjir darah yang ia ciptakan. Arjuna yang begitu titis dalam olah panah, sehingga sudah begitu banyak para sraya Prabu Duyudana yang tumbang oleh ketepatan olah warastra. Mereka adalah sebenar benarnya anak Pandu Dewanata. Dan tak kalah dari orang tuanya, orang muda Pandawa seperti Abimanyu dan Gatutkaca, telah bersimbah darah, dengan gagah berani mereka telah merelakan jiwanya, gugur menjadi kusuma bangsa”.

Lho sedangkan kamu itu apa? Datang berdua ke Mandaraka menyerahkan jiwa! Kamu takut menjalani peperangan heh?

“Terserahlah yang Uwak katakan . . . .” Nakula menjawab dengan lesu.

“Pinten, Tangsen, bukan Prabu Salya, bila menjadi samar dengan segala ulahmu. Dari aku mendengar berita kedatanganmu, melihat sosok kamu berdua, melilhatmu mencium kaki dengan air mata yang berlinangan; aku sejatinya sudah tahu. Itu bukan gambaran sosok anak Pandu !!


Keheningan kembali menyungkup. Hanya pandangan mata tajam Prabu Salya menghujam kearah kedua kemenakannya berganti ganti. Namun sebentar kemudian Prabu Salya mengatakan dengan nada tinggi hal yang membuat kedua satria kembar itu terhenyak, “Kedatanganmu kemari adalah ada yang menyuruhmu, iya apa iya . . ?! “


Menohok rasa kalimat tanya yang dilontarkan Prabu Salya, tak ada kata lain, Sadewa kali ini yang menjawab setelah terbungkam beberapa saat,“Kami mohon  maaf yang sebesar-besarnya Uwa Prabu . . . . .”


“Tidak . . , aku tidak akan memberimu maaf. . !” Masih dengan suara tinggi Prabu Salya menjawab ketus. Ia kecewa dengan kedua kemenakannya.

“Harus bagaimana hamba berdua Uwa Prabu?” Tanya Sadewa.

“Kamu berdua harus mengaku dulu, kamu sebetulnya disuruh seseorang untuk berbuat seperti itu?” Prabu Salya masih bersikeras.

“Ini hal yang sebenar-benarnya hamba lakukan atas kemauan kami sendiri . . .” Nakula dan Sadewa masih mencoba ingkar.

“Tidak . . . . tidak mungkin!! Kenyataan yang terjadi sekarang adalah macan yang beranak tikus. Ooooh Pandu, apa yang terjadi dengan anak kembarmu. Apakah bila kamu sudah berlinangan air mata dihadapanku, maka Salya akan larut. Ketahuilah, dalam perang nanti, siapa yang menjadi musuh Duryudana, ia akan menjadi musuh Salya pula!” Prabu Salya masih mencoba mengancam

“Silakan Uwa memarahi kami berdua . . . Tetapi biar bagaimanapun, silakan uwa Prabu untuk membunuh hamba berdua, sekarang juga di Mandaraka ini”. Sadewa tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun pembekalan dari Prabu Kresna ketika ia hendak pergi  ke Mandaraka telah ia coba lakukan dengan sepenuh kekuatan untuk memenuhinya.

“Ketahuilah Pinten, Tangsen, aku masih berharap besar kepadamu berdua sepeninggal kakakmu Burisrawa dan Rukmarata. Aku masih berharap akan ada sejumput ketenteraman yang bisa kau berikan kepada uwakmu ini, sebab kamu berdua adalah masih darah dagingku sendiri”.


“Dari tata lahirku, aku ada di pihak Kurawa. Tapi tertanam dalam dalam dihati ini, Pandawa adalah kebenaran sejati dalam perang Barata ini”. 


“Hmm . .”“Sekarang katakan kepadaku, begini, Pinten, Tangsen. Tirukan kata kataku: Uwa Prabu, bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina, kami para Pandawa minta kepada Uwa, hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawanya; Ayo katakan itu kepadaku . . . !“ Prabu Salya menggeram menahan pepatnya rasa hati. Akhirnya dengan nada datar ia mengatakan kepada kedua kemenakannya. Kalimat yang ia reka dan akan ia katakan inilah  yang seharusnya Nakula dan Sadewa katakan terus terang kepada dirinya. 
Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.

Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam.“Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”

“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan”. Jawab Sadewa.

“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.

Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”

“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu

Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami  . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula

“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan  kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.

Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.

“Uwa Prabu . . “


“Uwa Prabu”, tiru Nakula

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”


“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”


“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”


“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “


“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”


Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.


Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih.
Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.

“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”.Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.


Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi“Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.


Kemudian Prabu Salya melanjutkan, “Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu akan aku berikan tugas sebagai raja yang menangani urusan di dalam negara. Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan di luar negara. Yang saya maksudkan adalah, Sadewa, melakukan hubungan ketatanegaraan denga raja raja diluar Mandaraka. Sedangkan Nakula, lakukan penggalangan dengan raja raja jajahan yang ada dalam lingkup Negara Mandaraka”.


“ Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan bekal uang dan barang barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.

“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.

“Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya.”.


“Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas kepercayaan masing masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayan kepada yang Maha Tunggal oleh negara, ini akan mengakibatkan kapercayan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan; jangan kalimat dalam kitab suci mereka, dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.


“Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”. 


“Bila itu yang kau lakukan, maka  kamu sudah bersifat Adigang,Adigung dan Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang mengandalkan dirimya yang paling besar dan kuat sedangkan ular yang sombong mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara dengan berlandaskan rasa keadilan. Kedilan yang sebenar benarnya adil dan dapat dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”. 


Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil bila sang uwak memandangnya meminta apakan ia memahami apa yang dikatakannya.

“Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru. Bisalah kamu berdua menyatukan  antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang menguasai imu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata dunia yang tentram tertib dan adil ”. 

Sampai disini Prabu Salya diam dan memandang kembali kedua kemenakannya. Yang dipandang hanya mengangguk tanda mengerti.

Lanjutnya“Sedikitnya empat hal inilah yang kamu harus penuhi ketika kamu menjadi raja.“Sekarang kembalilah. Kembalilah ke pesanggrahan Hupalawiya. Terang tanah yang sebentar lagi datang, aku sudah akan datang kembali ke medan Kurukasetra sebagai seorang senapati perang”.

“Baiklah Uwa Prabu, kami berdua undur diri, hendaklah kejadian nanti di Medan Kuru tidaklah menjadi timbulnya dosa baru bagi kami sendiri atau Para Saudara kami Pandawa nanti”. Serempak keduanya memohon diri setelah dianggap cukup semua peristiwa yang akan menentukan masa depan keduanya, uwaknya Prabu Salya serta saudaranya Para Pandawa.

“Ya, ya anakku, semoga semua akan berjalan baik. Puja keselamatan aku panjatkan kepada yang Maha Adil untuk kejayaan Para Pandawa”.

Undur diri Nakula dan Sahadewa dengan perasaan campur aduk. Kebesaran hati sang uwak telah mengusik ketidak tegaan kemenakannya. Terpikir bagaimana saudara saudaranya harus menyingkirkan rasa tega terhadap orang tua yang sebenarnya tidak condong dalam mengayomi Para Kurawa, walau uwaknya itu telah menyatakan kesanggupannya menyerahkan jiwa untuk kemenangan Para Pandawa.

Prabu Salya yang ditingalkan oleh kedua kemenakannya segera beranjak dari Sanggar Pemujaan. Ia teringat dengan kewajibannya bahwa hari ini harus segera kembali ke medan Kurukasetra. Ketika ia menengok kedalam tilam sari, dilihatnya istrinya Dewi Setyawati masih tertidur pulas memeluk guling. Termangu Prabu Salya memandang tubuh istrinya yang tergolek bagai boneka kencana. Ragu dalam hati Salya meninggalkan tempat istrinya berbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur. Tetapi ia segera menetapkan diri akan kewajiban dan kesanggupannya terhadap menantunya, Prabu Duryudana. Tanpa membuang waktu lagi, bergegas ia berganti busana pamujan ke busana keprajuritan. Diperhatikan pusakanya seksama dengan perasaan yang tidak menentu.

Berangkatlah Prabu Salya dengan tanpa pamit dengan istrinya. Namun perasaan bersalah menghentak dalam dadanya. Ia telah meninggalkannya dengan sembunyi-sembunyi. Sepucuk surat telah ia letakkan di sisi pembaringan.

Kereta yang ditumpangi Prabu Salya yang melaju pesat di dini hari yang masih berembun. Semilir angin pagi yang menusuk tulang namun memberi kesegaran baru.  Segala yang dilalui seakan akan bergerak cepat kearah belakang bagai scene cerita yang berkeradapan bingkai demi bingkai. Gambaran masa lalu, ketika ia pertama kali ketemu dengan istri tercintanya, Setyawati. Tidaklah mengherankan bahwa masa lalu itu terlintas, kegalauan hati masih berkecamuk ketika ia meninggalkan sang istri, telah membawanya mengenang masa lalu ketika dirinya masih muda.

Bingkai gambar itu dimulai saat pertama kali tatapan mata Salya muda itu saling bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati, nama muda Setyawati.

Kejadian di Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk suruk meninggalkan kerajaan Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya, Prabu Mandrakesywara.

Ayahnya yang kecewa dengan perintah kepada dirinya agar segera menikah telah ditolaknya dengan halus. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu  itu, agar ketika ayahndanya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah bertaut dengan seorang wanita. Namun dirinya yang waktu itu masih bernama Narasoma, mengajukan syarat, bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir dirinya hingga terlunta lunta sampai di Pertapaan Argabelah.

Tumbukan sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan mengobarkan asmara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun  terbakar api itu, diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!

“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?”Begawan Bagaspati menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban ayahnya, Begawan Bagaspati menanyakan kepada Narasoma.

“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.

“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?”, Sifat tinggi hati Salya muda tak mau kalah.

“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.

“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrakesywara. Namaku Narasoma”. Kata Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak. Mandrakesywara adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.

“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini”. Bagaspati menjelaskan.

“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”

“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati anakku?”. Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.

Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku dengan wanita yang menjadi pujaan hati. “Baiklah, aku mempunyai syarat agar putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki dariku. Sanggupkah?”

Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.

Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!
“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.

“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah  rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.

Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.


Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.

Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.

Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.



Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!
Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.

Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.

Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para Pandawa.  Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.

Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.

Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.

Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana yang mungkin saja terjadi.

“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi sebenarnyalah  ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit dagingnya!”

Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu. Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!

Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa yang menghadang.

“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman . . . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh lawannya  yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih Gandamana. Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.

Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.

“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu, Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah, tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”

Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok  yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.

Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.

Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.

Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.

more.

ADIPATI KARNO GUGUR

0 komentar

Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.

***

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.

Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas.

Sorak sorai bala tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara saudara sepupunya para Pandawa.

Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat!  Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.

Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu  “Mohon seribu maaf  rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.

“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.

“Rama, sekali lagi putra paduka mohon  maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku,  rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja  Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.

“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.

Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.

“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.

Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.

Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”. 

“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu. 

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”. 

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki  sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna!  Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.  “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.

“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

“Aduh Kanda Prabu, topong hamba  jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.

“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.

Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna.

Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya. Itulah sepasang mata Aswatama!
more.
Credits