Sunday, September 16, 2012

PENGINDERAAN JAUH

I.     Pengertian

Penginderaan jauh merupakan ilmu dan tekni serta seni untuk mendapatkan informasi tentang objek wilayah atau gejala dipermukaan bumi dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat, tanpa berhubungan langsung dengan objek yang dikaji.
Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris terjemahannya remote sensing, sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan istilah teledetection, di Jerman disebut farnerkundung distantsionaya (Rusia), dan perception remota(Spanyol).

II.    Komponen-komponen penginderaan jauh

1.            Sumber tenaga
Sumber tenaga berasal dari alam dan buatan
- Alam     = sinar matahari (sistem Pasif)
- Buatan  = sinar lampu atau pulsa radar, laser ”Light Detecting and Ranging' yang berarti mendeteksi dan menentukan jarak obyek dengan menggunakan spektrum tampak atau sinar, lidar (sistem Aktif)

2.            Atmosfer
Atmosfer terdiri dari molekul-molekul gas, sehingga atmosfer dapat berfungsi sebagai penyerapan, pemantulan, penghamburan dan melewati radiasi matahari

3.            Interaksi antara tenaga dan objek
Karakteristik objek, memantulkan, menyerap atau memancarkan tenaga ke sensor itupun pada kondisi benda atau objek (umur, musim, kelembaban dan warna)

4.            Sensor dan wahana
a.            Sensor adalah alat perekam yang dipasang diwahana ; ada 2 jenis :
·         Sensor fotografik ; berupa kamera yang bekerja pada sprektrum tampak, mengahasilkan foto/citra
·         Sensor elektromagnetik ; bekerja secara elektrik pada spektrum yang lebih luas dari spektra kosmik. Gamma, X, ultraviolet, tampak, inframerah, gelombang mikro (microwave), dan radiodengan proses menggunakan komputer menghasilkan foto/citra.

Sensor sonar = tenaga bunyi
Sensor kamera, termometer = tenaga elektromagnetik
Sensor gravitometer = tenaga gravitasi
Sensor magnetometer = tenaga magnetik
Sensor seimograf = tenaga sismik
b.            Wahana adalah kendaraan yang membawa sensor, bisa pesawat, balon udara, satelit dll.


5.            Perolehan data dan interaksi data
Cara terbaik dalam mengamati fenomena-fenomena dipermukaan bumi adalah melalaui foto udara/citra dengan interpretasi citra.

III.     Jenis penginderaan jauh

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan citra non foto (non-photograpyc image).

1)            Citra Foto
Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar yaitu:
               
A.            Spektrum Elektromagnetik yang digunakan

             Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi; tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan kapur.
             Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
             Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spectrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air permukaan.
             Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang 0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
             Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.

B.            berdasarkan   arah   sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu:

1)            Foto vertikal, yakni foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2)            Foto condong, yakni foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini pada umumnya sebesar 10° atau lebih besar. Apabila sudut condongnya berkisar antara 1°- 4°, foto yang dihasilkannya masih dapat digolongkan sebagai foto vertikal. Foto condong dibedakan lebih jauh atas:
•             Foto sangat condong (high oblique photograph), yakni bila pada
foto tampak cakrawaianya.
•             Foto   agak   condong   (low   oblique   photograph),   yakni   bila
cakrawala tidak tergambar pada foto.

C.            Berdasarkan    warna    yang    digunakan,    foto    berwarnadibedakan atas:

1.            Foto berwarna semu (false color) atau foto inframerah berwarna.
Pada'foto berwarna semu, warna obyek tidak sama dengan war¬
na foto. Obyek seperti vegetasi yang berwarna hijau dan banyak
memantulkan spektrum inframerah, tampak merah pada foto.
2.            Foto warna asli (true color), yaitu foto pankromatik berwarna

D.            berdasarkan wahana yang digunakan, yaitu:

1.            Foto udara, yakni foto yang dibuat dari pesawat udara atau dari
balon.
2.            Foto satelit atau foto orbital, yakni foto yang dibuat dari satelit.



2)            Citra non foto
adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra non foto dibedakan atas:
a.            Spektrum elektromagnetik yang digunakan
1)            Citra infra merah thermal, yaitu citra yang dibuat dengan spectrum infra merah thermal. Penginderaan pada spektrum ini berdasarkan atas beda suhu obyek dan daya pancarnya pada citra tercermin dengan beda rona atau beda warnanya.
2)            Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan sektrum Gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif yaitu dengan sumber tenaga buatan, sedang citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah.

b.            Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan atas:
1)            Citra tunggal. yaitu citra yang dibuat dengan sensor tunggal.
2)            Citra   muliispektrat.   yaitu   citra   yang  dibuat  dengan   saluran
jamak.  Berbeda dengan citra tungga! yang umumnya dibuat
dengan saluran lebar, citra multispektral pada umumnya dibuat
dengan saluran sempit.








IV.   Manfaat penginderaan jauh

1.     Bidang kelautan (seasal dan MOSS)
  •  Pengamatan sifat fisis air laut
  •  Pengamatan pasang surut air laut dan gelombang lau
  •  Pemetaan perubahan pantai, abrasi, seimentasi dll

2.    Bidang hidrologi (lansal dan SPOT)
  •   Pengamatan DAS
  •   Pengamatan luas daerah dan intensitas banjir
  •   Pemetaan pola aliran sungai

3.            Bidang klimatologi (NOAA, meteor dan GMS)
  •   Pengamatan iklim suatu daerah
  •   Analisi cuaca
  •   Pemetaan iklim dan perubahannya

4.            Bidang sumber daya bumi dan lingkungan (lansat, soyuz dan spot)
  •    Pemetaan penggunaan lahan
  •    Pengumpulan data kerusakan lingkungan
  •    Pendeteksian lahan kritis
  •    Pemantauan distribusi sumber daya alam
  •    Perencanaan pembangunan wilayah




INTERPRETASI CITRA
interpretasi citra :
adalah kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra, selanjutya menilai arti penting dari obyek tersebut


Langkah-langkah umum yang dilakukan untuk memperoleh data penginderaan jauh agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang adalah :
1.  Deteksi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan mendeteksi obyek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit
2.  Identifikasi
Mengidentifikai obyek berdasarkan ciri-ciri spektral, spasial dan temporal.
3.  Pengenalan
Pengenalan obyek yang dilakukan dengan tujuan untuk mengklasifikasikan obyek yang tampak pada citra berdasarkan pengetahuan tertentu
4.  Analisis
Analisis bertujuan untuk mengelompokkan obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama
5.  Deduksi
Merupakan kegiatan pemrosesan citra berdasarkan obyek yang terdapat pada citra ke arah yang lebih khusus.
6.  Klasifikasi
Meliputi deskripsi dan pembatasan (deliniasi) dari obyek yang terdapat pada citra
7.  Idealisasi
Penyajian data hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment