Wednesday, November 7, 2012

KIAT MENULIS PUISI



Menghidupkan Panggilan Jiwa dalam Menulis Puisi

Menulis puisi pada dasarnya adalah panggilan jiwa. Panggilan jiwa ini ada yang sudah merupakan gift dan ada dalam diri penyair sejak awal serta bersifat alamiah. Tetapi, panggilan jiwa ini pun bisa dihidupkan, dengan;
intens membaca karya-karya sastra
berada dalam lingkungan dan jaringan penulis (puisi)
menghadiri berbagai peristiwa kesenian, dan lain-lain.
Membangkitkan Pengalaman Puitik

Menulis puisi harus lahir dari pengalaman puitik, yaitu suatu dorongan/desakan dari dalam jiwa penulis karena mengalami suatu pengalaman yang kental (intens). Puisi yang tidak lahir dari pengalaman ini, hanya akan berhenti sebagai versifikasi (keterampilan menulis puisi). Puisi seperti ini akan terasa kering, tanpa ruh, tanpa greget, tanpa gairah, tanpa api. Ungkapan-ungkapan yang muncul dalam puisi hendaknya lahir dari pengalaman puitik ini, bukan sekedar mengotak-atik unsur-unsur bahasa secara artifisial.

Setiap orang bisa mendapatkan dan mengalami pengalaman puitik. Caranya adalah selalu menyiapkan diri dan membuka jiwa kita, baik panca indera, perasaan, imajinasi, maupun pikiran untuk menangkap berbagai hal di sekitar, di dalam diri dan dalam kehidupan.
Menggali dan Mengolah Ide Penulisan Puisi

Segala sesuatu bisa jadi ide/bahan penulisan puisi; alam, benda-benda, cerita, mitos, legenda, nilai-nilai masyarakat, budaya, problem sosial, cinta, harapan, kekecewaan, dan masih banyak lagi. Segala sesuatu yang kita amati, hayati, dan alami dalam kehidupan adalah bahan penulisan puisi. Ide/bahan penulisan puisi itu adalah pengalaman penyair akibat persentuhannya dengan realitas (kenyataan). Pengalaman tersebut direnungkan dan diolah dengan kepribadian dan cara pandangnya sendiri, bukan dengan cara pandang umum. Puisi menjadi berharga apabila ada kekhasan dari cara pandang penyairnya.
Mengasah dan Mengolah Unsur-Unsur Pembangun Puisi

Dalam penciptaan puisi, pengalaman puitik dan ide penyair dituangkan/diungkapkan dengan alat-alat puitik/unsur-unsur pembangun puisi. Seperti: diksi, pencitraan, permajasan, penyiasatan struktur, bunyi, irama, dan topografi. Semua alat puitik ini diolah dan didayagunakan semaksimal mungkin agar pengalaman yang dituangkan itu dapat diterima pembaca dengan sejelas-jelasnya.
Puisi adalah Komunikasi

Dalam puisi, penyair ingin mengkomunikasikan pengalaman dan gagasannya kepada pembaca. Tentunya agar pengalaman dan gagasan itu dapat diterima dan dipahami pembaca, penyair harus mengkomunikasikannya dengan baik. Caranya adalah dengan menggunakan alat-alat puitiknya secara jernih.
Menjaga Logika Puisi

Keliru besar jika penciptaan puisi dianggap tak melibatkan akal/pikiran /rasio. Mencipta puisi adalah mengerahkan segala daya penyair lahir batin: pikiran, perasaan, imajinasi. Ketiganya harus berjalan seimbang. Menulis puisi pada aspek-aspek tertentu mungkin dilakukan atau memerlukan suasana trance, dan unsur bawah sadar. Tetapi, pada akhirnya rasio akan mengendalikannya. Lambang-lambang misalnya, muncul karena perasaan dan imajinasi. Tetapi bagaimana memilih dan menyusunnya dalam struktur yang tepat adalah tugas rasio. Di sinilah logika berjalan. Oleh karena unsur-unsur dalam puisi bersifat multi dimensi, yang digunakan tidak hanya logika linier, tapi juga logika puitik.

Membaca Puisi

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi sebagai berikut:

- Ketepatan ekspresi/mimik
Ekpresi adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan puisi. Mimik adalah gerak air muka.

- Kinesik yaitu gerak anggota tubuh.

- Kejelasan artikulasi
Artikulasi yaitu ketepatan dalam melafalkan kata- kata.

- Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya.

- Irama puisi artinya panjang pendek, keras lembut, tinggi rendahnya suara.

- Intonasi atau lagu suara
Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut :

- Tekanan dinamik yaitu tekanan pada kata- kata yang dianggap penting.

- Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjud, dan sebagainya. Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa dan sebagainya.

- Tekanan tempo yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata.

Jenis- Jenis Puisi

A. Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.

Aturan- aturan itu antara lain :
Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama

Macam-Macam Puisi Lama
Mantra

Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India) 

Ciri-ciri gurindam:
Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst
Berasal dari Tamil (India)
Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.

Contoh :

Kurang pikir kurang siasat (a)

Tentu dirimu akan tersesat (a)

Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )

Bagai rumah tiada bertiang ( b )

Jika suami tiada berhati lurus ( c )

Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
Syair

Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.

Ciri – ciri syair :
Setiap bait terdiri dari 4 baris
Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Bersajak a – a – a – a
Isi semua tidak ada sampiran
Berasal dari Arab

Contoh :

Pada zaman dahulu kala (a)

Tersebutlah sebuah cerita (a)

Sebuah negeri yang aman sentosa (a)

Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

Negeri bernama Pasir Luhur (a)

Tanahnya luas lagi subur (a)

Rakyat teratur hidupnya makmur (a)

Rukun raharja tiada terukur (a)
4. Pantun Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri – ciri pantun :
Setiap bait terdiri 4 baris
Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
Baris 3 dan 4 merupakan isi
Bersajak a – b – a – b
Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Berasal dari Melayu (Indonesia)

Contoh :

Ada pepaya ada mentimun (a)

Ada mangga ada salak (b)

Daripada duduk melamun (a)

Mari kita membaca sajak (b)
Macam-Macam Pantun
Dilihat Dari Bentuknya

v Pantun Biasa Pantun biasa sering juga disebut pantun saja. Contoh :

Kalau ada jarum patah Jangan dimasukkan ke dalam peti Kalau ada kataku yang salah Jangan dimasukan ke dalam hati

v Seloka (Pantun Berkait)

Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.

Ciri-ciri seloka:

- Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.

- Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga

- Dan seterusnya

Contoh : Lurus jalan ke Payakumbuh, Kayu jati bertimbal jalan Di mana hati tak kan rusuh, Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan, Turun angin patahlah dahan Ibu mati bapak berjalan, Ke mana untung diserahkan

v Talibun

Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. 

Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. 

Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.

Jadi :

Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.

Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

Contoh :

Di kala katak tersepak pelita

Menarilah kuda di batu akik

Dikejar teledu terkena pahat

Jika hendak anak sempurna

Carilah di guru cerdik

Mengajar ilmu dunia akhirat

Pulau Todak lingkup merata

Sandarlah jati beri peniti

Karamkan benua alunan lubuk

Kalau hendak hidup sempurna

Hindarilah diri dari judi

Haramkan semua minuman mabuk

v Pantun Kilat ( Karmina )

Ciri-cirinya :
Setiap bait terdiri dari 2 baris
Baris pertama merupakan sampiran
Baris kedua merupakan isi
Bersajak a – a
Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh

Dahulu parang, sekarang besi (a)

Dahulu sayang sekarang benci (a)
Dilihat Dari Isinya

v Pantun Anak-Anak Contoh :

Elok rupanya si kumbang jati Dibawa itik pulang petang Tidak terkata besar hati Melihat ibu sudah datang

v Pantun Orang Muda Contoh :

Tanam melati di rama-rama Ubur-ubur sampingan dua Sehidup semati kita bersama Satu kubur kelak berdua

v Pantun Orang Tua Contoh :

Asam kandis asam gelugur Kedua asam riang-riang Menangis mayat di pintu kubur Teringat badan tidak sembahyang

v Pantun Jenaka Contoh :

Elok rupanya pohon belimbing Tumbuh dekat pohon mangga Elok rupanya berbini sumbing Biar marah tertawa juga

v Pantun Teka-Teki Contoh :

Kalau puan, puan cemara Ambil gelas di dalam peti Kalau tuan bijak laksana Binatang apa tanduk di kaki

B. Puisi Baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Ciri-ciri Puisi Baru
Bentuknya rapi, simetris;
Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
Sebagian besar puisi empat seuntai;
Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

Jenis-jenis Puisi Baru

Berdasarkan isinya:
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita

Ciri-ciri balada

Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.

Contoh:

menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia Raya

mendengar 130 juta rakyat

dan di langit

dua tiga cukung mengangkang

berak di atas kepala mereka

matahari terbit

fajar tiba

dan aku melihat delapan juta kanak – kanak

tanpa pendidikan



aku bertanya

tetapi pertanyaan – pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis - papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak

menghadapi satu jalan panjang

tanpa pilihan

tanpa pepohonan

tanpa dangau persinggahan

tanpa ada bayangan ujungnya.

………………..
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

Contoh:

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenal-Mu tersalib di datam hati.

(Saini S.K)
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa

Contoh:

Generasi Sekarang Di atas puncak gunung fantasi Berdiri aku, dan dari sana Mandang ke bawah, ke tempat berjuang Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru Pantoen keindahan Indonesia Yang jadi kenang-kenangan Pada zaman dalam dunia (Asmara Hadi)
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

Contoh:

Hari ini tak ada tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

(Iqbal)
Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

Contoh:

Hati ini tak mampu berbohong,

Ingin hati bersamamu,

Hati ini terus bertahan,

Karena diriku mengharap semua belas kasih,

hingga kau sadari.


Tak akan pernah menyerah,

Walau terus tersakiti.

Tak akan pernah berhenti,

Meski kau tak pahami.



Bisakah Kau Sadari ?

Semua rasa ini hanya untukmu.

Bisakah Kau Sadari ?

Kesetiaan yang akan kuberikan tulus

untuk dirimu.
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

Contoh:

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Contoh:

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidad penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.

(Rendra)

Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
Distikon- adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.

Contoh:

Berkali kita gagal

Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh

Kembali berdiri jangan mengeluh

(Or. Mandank)
Terzina- sajak 3 seuntai

Contoh :

Dalam ribaan bahagia datang

Tersenyum bagai kencana

Mengharum bagai cendana



Dalam bah’gia cinta tiba melayang

Bersinar bagai matahari

Mewarna bagaikan sari

Dari ; Madah Kelana

Karya : Sanusi Pane
Quatrain- sajak 4 seuntai

Contoh :

Mendatang-datang jua

Kenangan masa lampau

Menghilang muncul jua

Yang dulu sinau silau



Membayang rupa jua

Adi kanda lama lalu

Membuat hati jua

Layu lipu rindu-sendu

(A.M. Daeng Myala)
Quint- sajak 5 seuntai

Contoh :

Hanya Kepada Tuan

Satu-satu perasaan

Hanya dapat saya katakan

Kepada tuan

Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan

Yang saya serahkan

Hanya dapat saya kisahkan

Kepada tuan

Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan

Yang bisa dirasakan

Hanya dapat saya nyatakan

Kepada tuan

Yang enggan menerima kenyataan

(Or. Mandank)
Sektet- sajak 6 seuntai

Contoh :

Merindu Bagia

Jika hari’lah tengah malam

Angin berhenti dari bernafas

Sukma jiwaku rasa tenggelam

Dalam laut tidak terwatas

Menangis hati diiris sedih

(Ipih
Septime- sajak 7 seuntai

Contoh :

Indonesia Tumpah Darahku

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung gemunung bagus rupanya

Ditimpah air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

(Muhammad Yamin)
Oktaf/Stanza- sajak 8 seuntai

Contoh :

Awan datang melayang perlahan

Serasa bermimpi, serasa berangan

Bertambah lama, lupa di diri

Bertambah halus akhirnya seri

Dan bentuk menjadi hilang

Dalam langit biru gemilang

Demikian jiwaku lenyap sekarang

Dalam kehidupan teguh tenang

(Sanusi Pane)
Soneta- bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.

Contoh :

Gembala

Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )

Melihat anak berelagu dendang ( b )

Seorang saja di tengah padang ( b )

Tiada berbaju buka kepala ( a )

Beginilah nasib anak gembala ( a )

Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )

Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )

Pulang ke rumah di senja kala ( a )

Jauh sedikit sesayup sampai ( a )

Terdengar olehku bunyi serunai ( a )

Melagukan alam nan molek permai ( a )

Wahai gembala di segara hijau ( c )

Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )

Maulah aku menurutkan dikau ( c )

(Muhammad Yamin)



Catatan : Artikel ini ditulis oleh Vanera El - Arj (pembimbing ekstrakurikuler jurnalistik SMPN 1 Wonosobo) dari berbagai sumber yang diposting di FB, grup ekskul jurnalistik smp.


artikel ini saya copy dari blognya ibu teman saya yaitu gilang permana  adapun link ya ada di bawah ini
http://ekohastuti-ayomenulis.blogspot.com/2012/10/kiat-menulis-puisi.html

Me

Post a Comment

Semua umpan balik saya hargai dan saya akan membalas pertanyaan yang menyangkut artikel di Blog ini sesegera mungkin.

1. Komentar SPAM akan dihapus segera setelah saya review
2. Jika ada Link Download rusak silahkan komentar dibawah ini
3. Jika Anda memiliki masalah silahkan bertanya di papan komentar
4. Silahkan menyertakan link artikel ini yang mau share ke blog Anda .

Credits